ucapan

welcome to my blog

Senin, 24 September 2012

foto smk muh 2 jatinom


koleksi foto,cah mesin 3


www.igpgroup.astra/lamaran

PT. INTI GANDA PERDANA
Overview
The Product
The Customer



OVERVIEW
PT. Inti Ganda Perdana was founded as a private domestic investment company and at the moment occupies a land area of 63,300 m2, within the up IGP Group area, and employs a work force of 671.
PT Inti Ganda Perdana didirikan sebagai perusahaan penanaman modal dalam negeri (PMDN) dan pada saat ini menempati areal seluas 63.300 m2, dalam areal IGP Group, serta memperkerjakan 671 tenaga kerja.



MAIN BUSSINESS
PT. Inti Ganda Perdana mainly manufactures rear axle and propeller shafts, and has decided on its mission to become a reliable drive shaft and drive axle manufacturer, with a vision to become a company with competitive advantage on the global market.
 
PT. Inti ganda perdana dengan bisnis utama memproduksi real axle dan propeller shaft, telah menetapkan misi untuk menjadi produsen drive shaft dan drive axle yang dapat diandalkan, dengan visi untuk menjadi perusahaan dengan daya saing terbaik di pasar global.
 

FUTURE ORIENTATION
As global player PT. Inti Ganda Perdana has been developing its capabilities in product design and development, as in manufacturing opertaions balanced by cost efficiency.
 
Sebagai pemain global, PT. Inti Ganda Perdana mengembagkan kemampuan desain dan pergembangan produk serta operationalproduksi yang diimbangi dengan efisiensi biaya.

 
THE STRATEGY
Next to development of engineering capabilities, manufacturing operations and market expansions, the strategy implemented to archieve its mission is by applying Just In Time production systemat all production lines.
 
Selain pengembangan kemampuan engineering, operational produksi, dan perluasan pasar, strategy yang diterapkan untuk mewujudkan misi adalah dengan menerapkan sistem produksi Just In Time pada semua jalur produksi



Jl. Pegangsaan Dua Km 1.6
Kelapa Gading, Jakarta 14250 INDONESIA
Tel: (62-21) 4602755 (Hunting). Fax: (62-


Minggu, 29 Januari 2012

puisi bebas

kau bagaikan bidadari turun dari langit
pakaianmu yg putih
serasi dengan hatimu yg tulus
rambutmu yg hitam dan panjang
membuatku jatuh hati
pandanganmu yg tajam
menembus jantungku
serasa tanda getaran cinta
wajahmu begitu cerah
membuat diriku tergoda
kulitmu yg lembut bagaikan sutera
hatiku merasa nyaman bila didekatmu
belaianmu menghangatkan tubuhku
rasanya ingin berada didekapanmu
peluklah aku duhai pujaan hatiku
aku rindu belai tanganmu
dari ujung rambut
sampai ujung kaki
kau begitu sempurna dimataku
sungguh kau ciptaan TUHAN yg sempur

Jumat, 20 Januari 2012

islam di afrika selatan


ISLAM DI AFRIKA SELATAN
Kontribusi Muslim Indonesia
Hingga kini, terdapat sejumlah kata dalam bahasa Indonesia yang digunakan di Afrika Selatan.
Oleh Zalm Saldiaat ini, miliaran pasang mata tertuju pada perhelatan akbar Piala Dunia 2010 di Afrika Selatan. Afrika Selatan menjadi negara pertama yang menjadi tuan rumah di Benua Hitam itu. Namun, saat semua perhatian tertuju pada pertandingan sepak bola, beberapa ratus tahun silam, di sejumlah kota di negara yang berpenduduk sekitar 49 juta jiwa itu, terdapat kiprah umat Islam dalam menyebarkan agama tauhid ini ke negara tersebut. ,
Bahkan, terdapat Muslim asal Indonesia yang menjadi penyebar Islam bagi warga Afrika Selatan. Karena itu, terdapat hubungan yang sangat erat antara umat Islam di kedua negeri ini kendati ada jarak yang cukup jauh (12 jam penerbangan) dari Indonesia ke Afrika Selatan. Kedekatan itu tentunya bukan cuma jejak historis selama lebih dari 300 tahun lalu, tapi perkembangan Islam saat ini. Meski kita cuma jadi penonton, tak ada salahnya pesta bola .dunia kali ini dijadikan momentum untuk lebih mendekatkan keduanya.
Agama Islam masuk ke wilayah Afrika sejak abad ke-17. Salah satu penyebarnya adalah warga negara keturunan Indonesia, yakni Syekh Yusuf Makassar. Hingga saat ini, umat Islam di Afrika Selatan mencapai 1,25 juta jiwa atau sekitar tiga persen dari total penduduknya yang berjumlah 49 juta jiwa.
Kendati minoritas, mereka ada di salah satu pusat pertumbuhan Islam terpesat di Benua Afrika saat ini. Sebagai ilustrasi, di Kota Soweto, tak jauh dari Johannesburg, pada pertengahan 1970-an, cuma ada 10 orang Muslim. Namun, pada awal 2002, jumlahnya berlipat seribu kali menjadi sekitar 10 ribu orang.
Masjid dan madrasah sangat mudah dijumpai. Jumlah orang di berbagai townships, pusat-pusat permukiman penduduk berkulit hitam dan miskin, semakin hari terus bertambah yang menjadi Muslim. Setiap tahun berlangsung "Festival Syahadat" yang diprakarsai oleh Syekh Dr Abdalqadir as-Sufi. Sejak awal 2000, ratusan orang memeluk Islam. Terakhir, 22 Mei 2010, sebanyak 71 orang, khususnya dari Suku Zulu, serentak kembali kepada Islam di Durban.
Mengapa Islam menarik mereka? Islam dirasakan sebagai jalan keluar dari ancaman gangsterisme dan problem sosial lain, seperti obat terlarang, kekerasan seksual, wabah korupsi, dan dekadensi moral masyarakat lain yang terus merebak di berbagai kawasan di Afrika Selatan. Perhatian Islam atas nasib kaum miskin menarik hati mereka. Dalam situasi politik rasis puluhan tahun sebelumnya, agama Islam telah dipandang sebagai salah satu bentuk resistensi dan penolakan atas tatanan masyarakat yang didasarkan doktrin apartheid tersebut.
Perlu diketahui bahwa penyebaran agama Islam di Afrika Selatan dimulai terutama oleh para ulama, bangsawan, dan para tahanan politik penjajah Belanda. Hal ini memberikan pengaruh khusus atas perkembangan Islam di Afrika Selatan. Sejarah Islam di sana memang bersamaan dengan sejarah kolonialisme. Islam telah berada di Afrika Selatan selamakurang lebih tiga ratus tahun lamanya. Meski relatif kecil, peran mereka kini semakin besar dan penting.
Media massa Muslim, baik elektronik maupun cetak, sebagai satu indikasi yang mudah dilihat, telah berkembang dan menempati posisi penting di mata publik. Di seluruh Afrika Selatan, pada 2005, diperkirakan terdapat sekitar 455 masjid dan 408 lembaga-lembaga pendidikan mulai dari madrasah, sekolah lanjutan, sampai universitas. Jumlah organisasi sosial dan kesejahteraan, lembaga budaya dan perdagangan, serta media massa mencapai 465 lembaga. Sejak awal 2006, organisasi sosial kemasyarakatan ini bahkan telah meningkat menjadi 1.328 lembaga.
Kaum Muslim di Afrika Selatan terpusat di dua kota besar, yaitu Durban dan Cape Town, selain di Johannesburg, Port Eliazabeth, Pretoria, dan Soweto. Cape Town, khususnya, merupakan pusat keberadaan kaum Muslim di Afrika Selatan. Di sini, jumlah Muslim sekitar 700 ribu orang atau 30 persen dari jumlah penduduknya.
Jadi, suasana di berbagai sudut Cape Town tak ubahnya seperti kota Muslim lain di mana pun penuh orang berpakaian Muslim berlalu lalang, banyak restoran dan kedai halal, serta kubah dan menara masjid tampak menjulang di seantero kota. Di sini pula, anak keturunan Syekh Yusuf al-Makassari dan bangsawan ulama dari nusantara lainnya beserta para pengikutnya bermukim. Oleh pemerintah kolonial Belanda dulu dan diteruskan selama masa Apartheid, mereka disebut sebagai Cape Malay. Jumlahnya sekarang diperkirakan sekitar 170 ribuan orang.
Tapi, istilah Cape Malay ini perlu diberi catatan tersendiri. Achmat Davids, sejarawan setempat, menolak istilah tersebut dengan dua alasan. Pertama, istilah ini digunakan oleh pemerintah kolonial dan menimbulkan tembok pembatas rasial, yang tentu saja tidak sesuai dengan ajaran Islam. Kedua, dalam kenyataannya, mereka lebih-banyak berasal dari Indonesia dan bukan dari Semenanjung Malaysia. Sampai hari ini, pengaruh kekeliruan tersebut menimbulkan semacam kerancuan di kalangan Cape Muslim-istilah yang lebih disukai oleh Achmat Davids-tentang asal muasal mereka. Kebanyakan dari mereka lebih mengenal dan merasa memiliki ikatan emosional dengan Malaysia dibanding dengan Indonesia.
Menyedihkannya lagi, kesalahkaprahan seperti ini juga ada di tingkat akademisi. Dalam sebuah buku sejarah karya seorang penulis setempat, Mogamat Hoosain Ebrahim, dikatakan bahwa "Nama Syekh Yusuf yang sebenarnya adalah Abidin Tadia Tjoessoep dan ia lahir pada 1626 di Makassar, Selebes (sekarang Sulawesi), salah satu dari kepulauan Malaysia. Begitulah, ibarat peribahasa sapi punya susu, kerbau punya nama.
Terlepas dari soal itu, kita mudah mendapatkan bukti-bukti sejarah tentang keindonesiaan mereka. Selain makam Syekh Yusuf di kota kecil Macassar, sekitar 30 km dari pusat Cape Town, ada sejumlah kosakata Indonesia yang tertinggal dalam percakapan sehari-hari mereka. Kata maaf dan trema (terima) kasih serta jalan-jalan adalah tiga kata yang masih umum dalam percakapan sehari-hari masyarakat Cape Muslim. Kata-kata buka (puasa), bacha (baca) dalam pengertian mendaras Alquran, lebaran untuk hari raya Idul Fitri, serta kramat untuk menyebut makam para wali dan ulama masih dipakai.
Para petugas penyuci jenazah disebut toekamandi. Kata maskav untuk kata maskawin. Sementara itu, nama tempat dalam bahasa Indonesia, selain Macassar yang disebut di atas, ada perkampungan Tana Baru, tempat Tuan Guru, ulama lain asal Indonesia, dimakamkan.
Patut juga ditambahkan karena umumnya masyarakat Cape Muslim sehari-harinya berbicara dalam bahasa Afrikaans, yang berasal dari bahasa Belanda Kuno. Sejumlah kata dan istilah lain yang sama-sama dipakai adalah kantor, karcis, gratis, tas, rok, keran (air), praktik, transaksi, kuitansi, indikasi, polisi, dan semacamnya sampai kata pisang.
Tentu penulisan kata-kata tersebut di sana dan di Indonesia sedikit berbeda. Di negeri ini, kata-kata tersebut mengalami proses Indonesianisasi, sedangkan di Afrika Selatan masih dipertahankan sesuai dengan aslinya meski pengucapannya relatif sama. Malah sebaliknya, yang pernah terjadi atas kebiasaan dan istilah yang semula berasal dari bahasa Indonesia ini adalah Belandanisasi. Misalnya, nama Muhammad" dituliskan Mogamad atau nama Khadijah dituliskan sebagai "Gadijah meski tetap dilafalkan sebagai Muhammad dan Khadijah.
Selain itu, terjadi modifikasi nama-nama nusantara yang semula tidak menggunakan sistem nama keluarga (sure name), ditambahkan nama keluarga, terkait dengan sistem administrasi kolonial. Bagaimana nama-nama orang yang didatangkan dari nusantara itu berubah?
Inilah yang terjadi. Karena orang-orang Muslim nusantara tersebut umumnya diperbudak, penambahan nama keluarga pada belakang nama mereka dilakukan berdasarkan nama keluarga tuan atau pemiliknya. Lazimnya adalah nama Belanda Hendricks, Edwards, Martin, dan sebagainya. Maka, jangan heran kalau nama warga Muslim keturunan Indonesia di Afrika Selatan saat ini merupakan kombinasi yang bagi kita kurang lazim. Terkesan seperti campuran nama Islam dan nama Kristen Sulaeman Edwards, Yusuf Hendricks, Fatimah Vellie, dan seterusnya. Tentu, hal ini pada akhirnya hanyalah kebiasaan. Jadilah nama gado-gado semacam itu.
Satu hal yang patut kita hargai, perhatian dan minat bangsa Afrika Selatan pada Indonesia umumnya sangat besar. Begitu besarnya penghormatan masyarakat Afrika Selatan kepada Syekh Yusuf hingga mereka menganugerahinya The Companions of Oliver Tambo yang diserahkan saat menjelang Ramadhan 1427 Hijrah (2005 M). Selain Syekh Yusuf, hanya ada satu tokoh lain yang pernah mendapatkan penghargaan serupa, yaitu Ir Soekarno, presiden pertama RI. Artinya, mereka telah menyetarakan Syekh Yusuf sebagai pahlawan nasional Afrika Selatan. Ulama ini dipandang sebagai salah satu inspirator bagi pembebasaan bangsa Afrika Selatan dari belenggu politik apartheid.
Penghargaan kepada Syekh Yusuf ini sepatutnya menyadarkan kita untuk merajut kembali persaudaraan sedarah ini. Bagi rakyat Afrika Selatan, terutama kaum Muslimnya, Syekh Yusuf lebih dari sekadar inspirator. Bagi mereka, Syekh Yusuf adalah pembawa api kebenaran melalui Islam. Ia pula yang sejak awal membimbing mereka mempertahankan martabat sebagai manusia merdeka pada masa-masa sulit. Sejumlah tradisi umat Islam di Afrika Selatan, khususnya Provinsi Western Cape, telah diwariskan oleh Syekh Yusuf. Pembacaan surah Yasin dalam beberapa hari setelah kematian satu anggota keluarga masih diteruskan. Tradisi Barzanji tiap Maulid Nabi Muhammad SAW juga masih populer. Secara umum, cara berislam Cape Muslim sangat dekat dengan umat Islam Indonesia. ed syahruddln e
Penulis adalah direktur Tabung Wakaf Indonesia dan pernah bermukim di Durban selama 10 bulan
Ringkasan Artikel Ini
ISLAM DI AFRIKA SELATAN. Namun, saat semua perhatian tertuju pada pertandingan sepak bola, beberapa ratus tahun silam, di sejumlah kota di negara yang berpenduduk sekitar 49 juta jiwa itu, terdapat kiprah umat Islam dalam menyebarkan agama tauhid ini ke negara tersebut. Karena itu, terdapat hubungan yang sangat erat antara umat Islam di kedua negeri ini kendati ada jarak yang cukup jauh (12 jam penerbangan) dari Indonesia ke Afrika Selatan. Hingga saat ini, umat Islam di Afrika Selatan mencapai 1,25 juta jiwa atau sekitar tiga persen dari total penduduknya yang berjumlah 49 juta jiwa. Kendati minoritas, mereka ada di salah satu pusat pertumbuhan Islam terpesat di Benua Afrika saat ini. Islam dirasakan sebagai jalan keluar dari ancaman gangsterisme dan problem sosial lain, seperti obat terlarang, kekerasan seksual, wabah korupsi, dan dekadensi moral masyarakat lain yang terus merebak di berbagai kawasan di Afrika Selatan. Kaum Muslim di Afrika Selatan terpusat di dua kota besar, yaitu Durban dan Cape Town, selain di Johannesburg, Port Eliazabeth, Pretoria, dan Soweto. Jadi, suasana di berbagai sudut Cape Town tak ubahnya seperti kota Muslim lain di mana pun penuh orang berpakaian Muslim berlalu lalang, banyak restoran dan kedai halal, serta kubah dan menara masjid tampak menjulang di seantero kota. Dalam sebuah buku sejarah karya seorang penulis setempat, Mogamat Hoosain Ebrahim, dikatakan bahwa "Nama Syekh Yusuf yang sebenarnya adalah Abidin Tadia Tjoessoep dan ia lahir pada 1626 di Makassar, Selebes (sekarang Sulawesi), salah satu dari kepulauan Malaysia. Tentu penulisan kata-kata tersebut di sana dan di Indonesia sedikit berbeda. Di negeri ini, kata-kata tersebut mengalami proses Indonesianisasi, sedangkan di Afrika Selatan masih dipertahankan sesuai dengan aslinya meski pengucapannya relatif sama.